Banyak sekali kiranya problematika ummat yang terkadang membuat dada kita sesak. Kepengapan akan pola pikir yang inferior, dalam konteks kehidupan tidak saja karena factor kepribadian. Kita lihat, sebenarnya disana banyak sekali infiltrasi negative yang lambat laun kian melemahkan karakter pemuda, Khususnya Pemuda Muslim. Karena Islam, tidak hanya menentang regresifitas, tapi Islam juga adalah Agama yang pernah menggugat Progesifitas yang sempit dan melemahkan.
Kecederungan tersebut salah satu indikasinya adalah memunculkan banyak pertentangan, khususnya pertentangan dalam banyak pemikiran. Ada Islam Fundamental (istilah umum) yang dalam jargon Gerakan, menolak segala hal yang bersifat ‘racun’ yang salah satunya adalah pemikiran Pluralisme atau Multikulturalisme. Sementara kaum Liberal, dengan lantang berseloroh serta menyuarakan perdamaian dan kebersamaan, walau terkadang harus keluar dari doktrin kitab suci.
Pertentangan yang kontras antara dua kubu dalam satu kepercayaan itu memang bukan hal baru, jauh sebelum pertentangan itu muncul baru-baru ini, pasca wafatnya Rasullulah keenderungan itu sudah Nampak. Bahkan fitnah yang terjadi kadang membuat hati kita terluka ketika membacanya. Namun itu telah terjadi. Tragedy perang siffin dan jamal adalah dua fakta yang tak terelakkan. Jika pernah terjadi perang antara Islam melawan Islam.
Teks Syahadat, dalam Diskursus Zaman tetaplah sama. Ia, merujuk pada satu keyakinan dan kepercayaan. Alloh sebagai Penguasa Kehidupan dan Muhammad sebagai utusan. Syahadat tak terbatas untuk kaum Fundamental, Liberal, Radikal atau Moderate. Syahadat, mencerminkan makna ‘satu’ dan keutuhan. Jika Syahadat sampai kapanpun tetap, bagi yang memeluk Islam. Minimal nama Allah dan Muhammad adalah yang terdepan harus dijunjung.
Meski begitu tak bisa dipungkiri, perang pemikiran, kafir mengkafirkan, dan saling bersitegang dalam satu naungan Syahadat masih kerap terjadi. Sayangnya, bukan Syahadat yang menjadi sebab utama perang itu. Melainkan, lebih pada factor politis dan arogansi idiologi. Kaum Liberal, secara konseptual mendambakan kebersamaan dan perdamaian. Kaum fundamental juga, tak mau terkena racun-racun pemikiran Liberal yang katanya, telah merusak kemurnian akidah Ummat. Secara sadar, sebenarnya bukan masalah Islam membela Islam, tapi lebih terkait pada Liberal menentang Fundamenta dan fundamental menentang Liberal. Inkuisi keduanya adalah arogansi idiologi.
Maka kita, termasuk saya yang terkadang hanya menjadi middle man (moderate) merasa jika pertentangan kedua kubu itu telah menimbulkan stigma negative yang tak berkesudahan. Idiologi telah menjelma menjadi paganisme yang memuntahkan eksistensi yang sesungguhnya. Islam, menjadi Warna yang kusam dan semakin memuakkan. Paling tidak, pertentang kedua kubu yang sengit itu tidak pernah dipedulikan oleh kaum-kaum proletar, yang hidup dalam kesenjangan.
Maka perlu adanya Syahadat kedua. Bukan Syahadat yang berupa teks Egalitarianisme paham ketuhanan dan Kenabian. Namun Syahadat yang membawa persatuan ummat dan melebarkan eksistensi kitab suci sebagai manifestasi dari kebangkitan dan kebersamaan. Akomodasi dari paham perdamaian dan kemurnian ajaran Islam. Wallohu’alam
Ahmad Fahrizal Aziz
Kabid Keilmuan IMM ‘komisariat’ Pelopor UIN Maliki Malang

0 komentar:
Posting Komentar